Situasi di kawasan Tangse dikabarkan memanas setelah ratusan warga turun ke lapangan dan menggelar aksi mengelilingi kawasan Gunung Neubok Badeuk.
Massa datang dari berbagai desa sekitar, membawa poster dan spanduk yang berisi tuntutan penghentian aktivitas tambang ilegal serta perambahan hutan yang diduga telah berlangsung lama. Aksi ini merupakan bentuk keprihatinan warga terhadap kerusakan lingkungan yang terus meluas.
Menurut keterangan warga, keberadaan aktivitas ilegal tersebut telah berdampak pada terganggunya sumber air, kerusakan lahan, dan meningkatnya risiko bencana alam di daerah perbukitan. Masyarakat menilai, pembiaran terhadap aktivitas perusakan lingkungan akan mengancam keselamatan mereka dalam jangka panjang. Karena itu, aksi kepungan dilakukan sebagai bentuk tekanan moral agar pihak terkait segera bertindak.
Ikuti terus berita menarik yang dapat memperluas wawasan anda hanya di Mafia Hutan.
Tudingan Mengarah ke Jaringan Mafia Tambang
Dalam aksi tersebut, warga menyebut keberadaan dugaan jaringan mafia tambang yang beroperasi secara terorganisir di kawasan pegunungan. Mereka menduga aktivitas penggalian dan pengangkutan material dilakukan secara terstruktur dengan memanfaatkan celah pengawasan. Sejumlah warga mengungkapkan bahwa aktivitas kendaraan berat sering terlihat keluar masuk kawasan pada malam hari.
Masyarakat menilai bahwa aktivitas tersebut tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berpotensi menyebabkan konflik sosial. Ketimpangan manfaat dan dampak kerusakan lingkungan dianggap merugikan warga sekitar yang bergantung pada hutan dan sumber air pegunungan. Karena itu, massa mendesak penegakan hukum dilakukan secara tegas dan menyeluruh.
Warga juga meminta pemerintah tidak hanya menyasar pelaku lapangan, tetapi menelusuri aktor intelektual di balik operasi tambang ilegal. Menurut mereka, kasus perusakan lingkungan tidak akan berhenti jika jaringan besar di baliknya tidak diungkap.
Perambahan Hutan Dinilai Ancam Ekosistem
Selain tambang ilegal, massa juga menyoroti maraknya aktivitas perambahan hutan di area Gunung Neubok Badeuk. Pembukaan lahan tanpa izin disebut telah merusak kawasan resapan air dan habitat flora-fauna setempat. Kondisi ini dikhawatirkan memicu bencana seperti banjir bandang dan longsor pada musim hujan.
Warga mengaku selama ini telah merasakan perubahan kondisi alam, terutama berkurangnya debit air sungai dan meningkatnya kekeruhan air. Hal tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa ekosistem hutan tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya. Mereka khawatir, jika perambahan terus terjadi, desa-desa di sekitar kaki gunung akan menghadapi risiko bencana yang lebih besar.
Aksi yang digelar hari itu menjadi bentuk seruan penyelamatan lingkungan. Massa meminta agar kawasan hutan Gunung Neubok Badeuk ditetapkan sebagai area yang dilindungi dan dikawal secara ketat.
Baca Juga: Kawasan Hijau Balikpapan Terancam Hutan Lindung Sungai Wain Dibabat Aktivitas Perusak Meningkat
Desakan Investigasi dan Penindakan Tegas
Melalui aksi ini, warga mendesak aparat penegak hukum dan pemerintah daerah untuk segera turun tangan. Mereka meminta investigasi menyeluruh dilakukan terhadap seluruh aktivitas pertambangan dan pembukaan lahan yang diduga tidak berizin. Selain itu, warga menekankan pentingnya transparansi hasil penyelidikan agar kepercayaan publik tetap terjaga.
Tak hanya itu, massa juga berharap adanya operasi pengawasan rutin di kawasan pegunungan. Menurut mereka, penindakan sementara tidak cukup jika tidak disertai pengawasan berkelanjutan. Warga menilai, kerusakan lingkungan hanya bisa dihentikan bila ada keseriusan dari seluruh pihak.
Perwakilan masyarakat menyatakan siap bersinergi dengan pemerintah dalam menjaga hutan, selama penegakan hukum berjalan adil dan tidak tebang pilih. Mereka menegaskan bahwa aksi ini bukan penolakan pembangunan, melainkan bentuk kepedulian terhadap masa depan lingkungan.
Harapan Warga untuk Pemulihan Lingkungan
Di akhir aksi, warga menyampaikan harapan agar Gunung Neubok Badeuk kembali menjadi kawasan hijau yang aman dan terlindungi. Mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, mulai dari rehabilitasi lahan hingga pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Program ekonomi berbasis lingkungan dinilai lebih bermanfaat daripada aktivitas tambang yang merusak.
Bagi masyarakat Tangse, hutan bukan sekadar ruang geografis, melainkan sumber kehidupan dan identitas wilayah. Karena itu, mereka merasa berkewajiban menjaga alam demi generasi mendatang. Aksi massa ini menjadi pesan bahwa rakyat tidak tinggal diam ketika lingkungan mereka terancam.
Warga juga berharap suara mereka tidak hanya didengar hari ini, tetapi menjadi momentum bersama untuk memperkuat komitmen perlindungan lingkungan di daerah tersebut.
Jangan lewatkan update berita seputaran Mafia Hutan serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan anda.