Gubernur Mahyeldi menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan bahwa dirinya berada di Korea Selatan saat banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Sumbar.
Dugaan ini mencuat karena Surat Keputusan (SK) penetapan status tanggap darurat bencana pada fase awal justru ditandatangani oleh Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, bukan oleh gubernur.
SK tersebut berlaku sejak akhir November, sementara tanda tangan Mahyeldi baru muncul pada SK perpanjangan status tanggap darurat pada awal Desember. Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Mafia Hutan.
Kronologi Banjir Bandang di Sumatera Barat
Fenomena banjir bandang yang terjadi di akhir November 2025 merupakan salah satu bencana hidrometeorologi besar yang menghantam Sumatera Barat.
Beberapa kabupaten dan kota mengalami kerusakan infrastruktur, rumah terendam, dan ribuan warga harus mengungsi.
Pemerintah provinsi kemudian menetapkan status tanggap darurat yang kemudian diperpanjang karena penanganan di lapangan belum selesai.
Status tanggap darurat diperpanjang sampai 22 Desember karena tim gabungan masih melakukan pencarian korban. Perbaikan akses yang terputus, serta distribusi bantuan bagi para warga terdampak.
Mahyeldi kemudian dipastikan aktif menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mempercepat distribusi bantuan dan memastikan pendataan dampak bencana dilakukan secara menyeluruh.
Sorotan Terhadap Kepemimpinan
Meski diberitakan sempat berada di luar negeri, Gubernur Mahyeldi tetap memberi arahan strategis terhadap penanganan pascabencana di Sumbar.
Ia mengevaluasi langsung rekap data di posko terpadu dan mendorong percepatan penanggulangan dampak banjir bandang. Termasuk perbaikan layanan dasar bagi korban.
Selain itu, Mahyeldi juga memimpin langkah-langkah koordinasi dengan kabupaten/kota terkait relokasi warga yang rumahnya rusak berat akibat banjir dan tanah longsor.
Langkah lain yang diambil pemerintah provinsi adalah menggalang bantuan dari berbagai daerah di Indonesia. Beberapa gubernur dari provinsi lain datang langsung menyerahkan dukungan logistik dan bantuan ke Sumatera Barat, sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat yang terdampak. Bantuan ini diterima oleh Mahyeldi secara simbolis di Padang.
Sampai saat ini belum ada klarifikasi detail dari Mahyeldi terkait jadwal pribadinya saat tersebut, sehingga isu ini tetap menjadi sorotan.
Baca Juga: Terungkap! 300 Kubik Kayu Hantu di Inhu Diduga Hasil Perambahan HPT, Ekosistem Terancam!
Dugaan Keberadaan Mahyeldi Saat Bencana
Isu mengenai keberadaan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mencuat ke publik bersamaan dengan terjadinya banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumbar.
Di tengah situasi darurat yang membutuhkan respons cepat dan kehadiran pemimpin daerah. Muncul dugaan bahwa Mahyeldi sedang berada di Korea Selatan.
Informasi tersebut menyebar luas melalui media sosial dan menjadi bahan perbincangan masyarakat. Dugaan ini memicu berbagai spekulasi serta pertanyaan mengenai peran dan tanggung jawab kepala daerah saat wilayahnya menghadapi bencana besar.
Kritik dan Respons Publik
Isu tentang keberadaan Mahyeldi di luar negeri saat bencana melanda memunculkan kritik di kalangan masyarakat. Beberapa pihak mempertanyakan komitmen pimpinan daerah ketika terjadi bencana besar di wilayahnya sendiri.
Kendati demikian, sejumlah pejabat pemerintah provinsi termasuk Kepala Biro Administrasi Pemerintahan Pemprov Sumbar mengaku sedang melakukan penelusuran mengenai dua SK tanggap darurat yang ditandatangani oleh Wagub dan Gubernur.