Wamenhut dorong replikasi model konservasi Sukabumi, ternyata ada alasan mengejutkan di balik langkah ini untuk masyarakat & alam.
Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) menyoroti Sukabumi sebagai contoh sukses konservasi berbasis masyarakat. Model ini tidak hanya menjaga hutan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan warga lokal.
Wamenhut pun mendorong agar praktik ini direplikasi di daerah lain. Lalu, apa alasan sebenarnya di balik dorongan ini? Bagaimana masyarakat dan lingkungan bisa diuntungkan? Berikut ulasan lengkap di Mafia Hutan mengenai langkah strategis yang bisa mengubah wajah konservasi di Indonesia.
Wamenhut Ajak Replikasi Model Konservasi Berbasis Masyarakat Di Sukabumi
Pada Selasa, 7 April 2026, Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki memimpin aksi penanaman bibit pohon di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan Hari Hutan Internasional dan mengusung tema “Hutan dan Ekonomi untuk Percepatan SNDC dan FOLU Net Sink Jawa Barat”. Tujuan utamanya adalah memperkuat konservasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Wamenhut menegaskan bahwa konservasi tidak boleh dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat setempat. Penanaman pohon yang dilakukan masyarakat menjadi bukti nyata bahwa konservasi dan ekonomi bisa berjalan bersama, bukan bertolak belakang. Program ini melibatkan kolaborasi antara Kementerian Kehutanan, IPB University, pemerintah daerah, dan kelompok tani.
Selain penanaman bibit, kegiatan ini juga menjadi momen untuk memperkuat koridor hijau hutan yang sebelumnya terfragmentasi. Langkah ini dimaksudkan untuk memberikan ruang hidup yang lebih baik bagi satwa endemik seperti Elang Jawa, Owa Jawa, dan Macan Tutul Jawa di kawasan hutan TNGHS.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Kolaborasi Dengan Masyarakat Mendukung Konservasi Dan Ekonomi
Dalam arahannya, Wamenhut menyampaikan bahwa konservasi hutan tidak boleh dilakukan tanpa melibatkan peran aktif masyarakat. Ia menyebutkan bahwa masyarakat penyangga adalah bagian penting dari upaya pelestarian hutan yang berkelanjutan.
Penanaman pohon dilakukan dengan dominasi jenis Multi Purpose Tree Species (MPTS) sebanyak 70 persen. Sisanya, sekitar 30 persen, adalah tanaman kehutanan endemik seperti Puspa dan Rasamala. Komposisi ini dipilih agar masyarakat dapat merasakan manfaat ekonomi langsung dari hasil panen, sementara fungsi ekologis hutan tetap terjaga.
Strategi ini mencerminkan pendekatan konservasi berbasis masyarakat yang tidak hanya menjaga ekosistem, tetapi juga memberikan peluang ekonomi. Masyarakat turut mengelola sumber daya alamnya sehingga tercipta hubungan simbiosis antara lingkungan dan kesejahteraan lokal.
Baca Juga: Masih Ada Pelanggaran Di Hutan PT AKT? Inilah Jawaban Satgas PKH!
Tantangan Pemulihan Lahan Kritis Di Sukabumi
Wamenhut juga menyoroti tantangan besar dalam pemulihan lahan kritis di kawasan konservasi Jawa Barat, khususnya di hulu Sukabumi. Area ini berfungsi sebagai “menara air” yang menjamin suplai air bagi irigasi, industri, dan kebutuhan air minum di hilir.
Kerusakan lahan kritis dapat mempengaruhi ketersediaan air bersih serta mempercepat degradasi ekosistem. Oleh karena itu, rehabilitasi hutan di hulu sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekologis serta mencegah banjir dan erosi di wilayah yang lebih rendah.
Dalam konteks pemulihan lahan ini, masyarakat penyangga dianggap sebagai pilar utama karena mereka memiliki keterikatan langsung dengan lingkungan. Pendekatan partisipatif diyakini mampu mempercepat restorasi ekosistem yang rusak.
Penyerahan Bibit Dan Dialog Interaktif
Dalam acara tersebut, Wamenhut menyerahkan secara simbolis bibit kepada delapan petani yang mewakili empat desa penyangga: Desa Cipeuteuy, Mekarjaya, Cihamerang, dan Kabandungan. Langkah ini menetapkan keterlibatan pribadi para petani dalam upaya konservasi.
Acara dilanjutkan dengan dialog interaktif bertajuk “Rembuk Penyangga Halimun Salak: Desa Berdaulat, Hutan Terawat, Ekonomi Kuat”. Dialog ini membuka ruang diskusi antara pemerintah, akademisi, petani, dan berbagai pihak terkait.
Fokus diskusi tak hanya pada penanaman, tetapi juga pada bagaimana menjaga keutuhan kegiatan konservasi agar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan ekosistem. Kegiatan ini diharapkan menjadi contoh kolaborasi efektif antara komunitas lokal dan lembaga pemerintah.
Harapan Agar Model Ini Direplikasi Di Daerah Lain
Wamenhut menegaskan bahwa tugas sebenarnya tidak berhenti pada aktivitas penanaman saja. Ia berharap agar bibit yang ditanam benar‑benar tumbuh dan memberikan manfaat nyata secara ekonomi, terutama kepada masyarakat sekitar.
Untuk itu, IPB University dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak diminta untuk terus mendampingi masyarakat. Pendampingan ini diharapkan mampu menguatkan model konservasi berbasis masyarakat yang dapat dikembangkan lebih luas.
Wamenhut melihat potensi besar dari pendekatan kolaboratif ini untuk direplikasi di wilayah lain di Indonesia. Dengan dukungan akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal, konservasi tidak hanya dilaksanakan namun juga mampu memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat setempat.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari kehutanan.go.id
- Gambar Kedua dari jabar.tribunnews.com